February 21st, 2006 by juta
Sebagian
besar relief di candi Borobudur dipahat dari Kitab Gandavyuha, mengisahkan perjalanan
seorang pencari kebenaran bernama Sudhana. Sebelum akhirnya
menemukan apa yang dicarinya, Sudhana selalu memetik pengajaran
yang positif dari orang-orang yang ditemuinya, maupun benda-benda yang dijumpai dalam perjalanannya. Salah satunya
adalah sebuah lonceng. Pada saat saya melihat relief lonceng di
Borobudur, saya juga bertanya kepada diri sendiri, pengajaran
seperti apa yang bisa diperoleh manusia dari sebuah lonceng?
Sampai suatu hari saya membaca buku autobiografi Albert
Schweitzer, saya menemukan salah satunya.
Albert Schweitzer (1875-1965) adalah filsuf penganjur ‘Reverence
for
Life’, dokter, ahli teologi kelahiran Jerman. Suatu hari di
saat usianya masih
tujuh, delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar
untuk menembak burung dengan katapel. Albert
kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani
menolaknya karena
takut ditertawakan. Albert menuturkan, ‘Kami mendekati sebatang
pohon yang sudah tak berdaun. Burung-burung
yang bertengger di sana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi
hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok
seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet
katapel. Tatapannya yang penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya. Tetapi pada saat
itu hati nuraniku merasa tertusuk dan
aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka.
Pada momen yang kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi
hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara
burung-burung yang sedang bernyanyi.’ Albert terkejut ketika lonceng berdentang dari
kejauhan. Baginya itu adalah ‘a voice from Heaven’, suara
surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak
mengusir burung-burung itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya.
Setelah itu
Albert sendiri berlari pulang. Mengenang kejadian di masa
kecilnya, Albert menulis, ‘Sejak itulah ketika lonceng Paskah
berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yang tak lagi berdaun, aku akan
ingat, dengan
hati yang sangat tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak
hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah ‘Thou shalt not kill,
janganlah membunuh.’
Suara lonceng itu telah menandai bermulanya perubahan dalam
hidup Albert. Setiap hari sebelum bakti puja,
suara lonceng akan bergema, memanggil dan mengingatkan kita
untuk menghadap-Nya. Suara yang juga mengingatkan kita akan kehendak-Nya
agar kita jangan membunuh, termasuk janganlah membunuh diri sendiri. Membunuh
tentu saja tidak dalam arti secara fisik saja, tetapi juga rohani. Kita
mempunyai hati nurani, janganlah kita
membunuh hati nurani kita sendiri.
-Maitreyawira-Centrum
MAJALAH MAITREYAWIRA Edisi ke-24
Posted in Artikel Semangat Hidup | No Comments »
December 22nd, 2005 by juta
Date: Wed, 14 Dec 2005 20:32:39 -0600 From: "indramuliadi. cen" <cenliyi@lycos.com>Subject: Re: Vegetarian Bercinta Lebih Baik?Hi, Secara pribadi saya tidak komentar krn belum nikah :), tapi saya punya satu artikel dari kompas Senin, 09 Agustus 2004, 09:52 WIB.
Vegetarian Bercinta Lebih Baik?
Kaum vegetarian mempromosikan hidup sehat dengan bercinta di kaki lima
Ravi Chand asal Virginia dan Bethany Walker dari Ohio --keduanya nyaris tidak berpakaian-- berciuman dengan hot di trotoar Boise, Idaho, AS, akhir Juli lalu.
Apa sih maunya?
Bukannya mau pamer kemesraan, mereka tengah mengadakan tur yang diberi nama The "Live Make-Out Tour" yang disponsori PETA (People for Ethical Treatment of Animals).
Ketika Ravi dan Bethany asyik beradegan panas, rekan-rekannya mengedarkan selebaran soal manfaatnya bagi kesehatan jika memilih hidup sebagai vegetarian.
Adegan percintaan tersebut digelar di seluruh negara bagian AS untuk menunjukkan kaum vegetarian adalah seorang kekasih yang hebat, jauh lebih hebat dari rekan-rekan mereka yang mengonsumsi daging.
Pejabat pemerintah setempat setuju-setuju saja adegan bercinta-cintaan itu digelar di tempat tidur yang ditaruh di kaki lima. Alasannya, para aktivis ini tengah mengemukakan sebuah pernyataan politis.
"Kami menyambut baik semua diskusi publik atas persoalan-persoalan penting. Isyu vegetarian merupakan masalah penting bagi sebagian orang," ujar juru bicara pihak keamanan kota. "Sepanjang mereka tidak merusak tempat-tempat umum dan mengganggu masyarakat, boleh-boleh saja," lanjutnya.
***
Vegetarian adalah sebutan bagi pengonsumsi makanan dari tumbuh-tumbuhan meliputi sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan buah-buahan.
Kebiasaan makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan bukanlah merupakan semata-mata ajaran agama tertentu saja, namun lebih disebabkan adanya keyakinan makanan vegetarian adalah makanan yang terbaik bagi kesehatan.
Enam tahun lalu, masyarakat vegetarian Inggris mengharap mengungguli pemakan daging dengan iklan yang menampilkan sayuran sebagai obyek seks.
Film 50 detik, yang mencakup cabai berbentuk khusus, melon dan asparagus itu, dimaksudkan untuk mengubah persepsi publik terhadap vegetarianisme dan mengubahnya menjadi alternatif sensual daging.
Iklan itu dipertunjukkan di 250 bioskop di seluruh Inggris dan masyarakat vegetarian itu merasa puas dengan pesannya. "Kami menyadari publik tidak menginginkan kami mengkhotbahkan bahaya kesehatan, sehingga dengan film baru itu, kami dapat memusatkan untuk menghancurkan pandangan stereotip vegetarian sebagai hambar dan tanpa rasa," kata jubir kelompok itu.
***
Contoh terbaik dari penganut vegetarian adalah suku bangsa yang hidup di Pegunungan Himalaya. Mereka mempunyai usia terpanjang di dunia. Kelompok suku ini bebas dari berbagai penyakit yang berbahaya seperti jantung, kanker, tekanan darah tinggi stroke, penyakit gula, paru-paru, ginjal, rematik, dan lain-lain.
Keadaan pada era globalisasi --dengan salah satunya dampaknya adalah bermunculannya makanan cepat saji (fast food) yang berlemak tinggi-- sangat memprihatinkan ahli kesehatan jantung karena konsumsi lemak berlebihan mempunyai risiko mendapat penyakit jantung koroner.
So, Anda jangan merasa rendah diri bila hanya mampu membeli lauk nabati termasuk tahu, tempe, dan kacang-kacangan karena nilainya akan sama dengan mengonsumsi lauk hewani bila dipadu padan dengan bahan makanan yang beraneka ragam.
Kelebihan mengonsumsi makanan nabati yaitu menghindari penyakit tertentu seperti jantung, dan stroke. Kalau tubuh sehat, tentu kehidupan seksual kita juga mantap.
Bagaimana kalau kita menganut cara makan vegetarian untuk tetap sehat? Apalagi sekarang harga daging mahal, belum lagi ancaman berbagai penyakit seperti flu burung, sapi gila dan lain-lain. (zrp/AP)
Posted in Uncategorized | No Comments »
June 1st, 2005 by juta
Tiga drakula berkompetisi, siapa yang paling jago. Drakula termuda dapat kesempatan duluan. Dia lari secepat kilat. 10 menit kemudian dia balik dengan muka berlumuran darah. Sambil menyeringai dia berkata, "Kalian lihat desa di seberang bukit itu?" Yang dua mengangguk, "Iya, lihat!”
“Desa itu… habiissss!! Hahahaha….” sambil ketawa garang.
Mendengar itu drakula yang paling tua panas hati… dia juga pergi sekelebat, terus 5 menit sudah balik, mukanya juga penuh cucuran darah. "Kalian lihat kota yang itu ?" katanya bangga. "Iya, lihat!", yang dua mengangguk berbarengan.
“Kota itu juga udah habiiissssss!!!!", kata yang paling tua sambil tertawa seram.
Akhirnya drakula terakhir tambah panas, nggak tahan untuk unjuk kebolehan. Dia lari sekelebat. Temannya yang dua terperanjat, soalnya belum sampai dua menit dia sudah balik, dengan penuh cucuran darah di mukanya… Temennya yang dua keselek, "Sadis amat nih drakula! Sangar amat… Cuma dua menit…". Sambil ngos-ngosan dia teriak, "Kalian lihat tiang listrik itu?" Kedua temennya sambil terkagum-kagum menjawab, “Lihat! Lihat! Lihat! Kenapa?"
"Gua kagak lihat!!!!" Jawab drakula terakhir sambil meringis nahan luka di mukanya.
Moral Cerita :
Hati manusia sekarang penuh dengan persaingan, melihat orang lain memiliki kemampuan yang lebih, kita sulit untuk menerimanya. Karena itu kita juga tak mau kalah. Dalam hati hanya berpikir bagaimana saya bisa mengalahkan orang lain, sehingga asal labrak saja tanpa memperhatikan hal-hal yang lain.
Posted in humor | 1 Comment »
May 31st, 2005 by juta
Kebahagiaan merupakan dambaan setiap manusia. Sibuk sepanjang hari, peras otak tiada henti, semua demi hidup lebih bahagia. Kini banyak tempat yang menawarkan dan menjanjikan kebahagiaan. Betulkah bahagia ada di sana? Lihat engkau, aku, dia, banyak manusia yang lalu lalang itu, siapakah yang hidup bahagia? Kita selalu menganggap bunga tetangga lebih indah, kok hidup orang lain lebih bahagia. Berpalinglah, bahagia sejati ada dalam diri. Bahagia akan didapat saat kita mulai berbenah diri dan memperbaiki diri. Diri yang dingin menjadi penuh kehangatan terhadap orang lain. Diri yang sempit dada menjadi lapang dada. Diri yang muka masem menjadi murah senyum. Diri yang selalu curiga menjadi bisa percaya pada orang lain. Belajar mengasihi, melayani, membantu, memberi, memaklumi, memaafkan…Dengan ini hidup terasa lebih indah dan bahagia. Cobalah…maka bahagia sejati pasti bersamamu.
Posted in Artikel Semangat Hidup | 1 Comment »